Minggu, 30 Agustus 2009

kaum hawa sepertiku..

Roman tanpa cinta
Biarkan kamu katakana aku pengecut, asal bukan itu sebenarnya aku. Jangan kawatir, aku tak akan marah, karena yang kamu lihat seperti itu. Mungin benar katamu, “wanita memang sulit dimengerti”. Mungkin aku banyak pertimbangan, tapi itu semua hanya untuk melindungi diriku. Maaf, aku belum mempercayaimu untuk menjagaku. Karena kamu memang belum dapat membuktikannya. Ragu? Iya aku ragu. 
Maaf, bukan aku meragukanmu. Tapi aku meragukan diri sendiri. Aku hanya tak bisa. “wanita memang sulit dimengerti”. Ya, aku sendiri tidak mengerti mengapa aku begitu banyak mempertimbangkan. Aku meragukan sesuatu ,yang mengkin saja, katamu itu tak perlu aku ragukan lagi. 
Bukan aku yang menginginkan untuk menjadi pribadi yang sulit. Tapi semuanya beralasan. “wanita memang sulit dimengerti”. Ya, wanita seperti apa yang sulit di mengerti? Seperti aku? Aku punya pertimbangan. Pertimbangan yang aku sendiri tak mengerti mengapa mempertimbangkan itu.
Aneh. “wanita memang sulit dimengerti”. Bukan! Bukan wanita yang sulit dimengerti. Ternyata aku yang tak mau mengerti alasan di balik pertimbanganku. Ada luka yang tak pernah ku sentuh lagi, itu perih. Tak satupun orang menyentuhnya, karena aku takut malah menambah rasa sakitnya. Bukan sembuh, malah membuat luka lainnya. 
Ya, ternyata itu. Bukan “wanita yang sulit dimengerti”. Tapi aku yang tak mau membuatmu mengerti. Aku tak yakin kamu bisa.  

0 comments:

Posting Komentar