Senin, 23 November 2009

Cari Pasangan Hidup (di TV) Bukan Lagi Privacy

REALITY SHOW MENCARI JODOH
Jujur saja, satu minggu ini aku sering banget nonton TV dari pada duduk sambil baca buku atau di depan leptop buat internetan. Terus apakah yang aku dapatkan dari nonton TV? Sekedar hiburan saudara-saudara..eh, nggak ding, pas banget TV “berita” (baca: metro TV, dan TV one) lagi rame-ramenya ngebahas perseteruan cicak vs buaya. Nonton yang beginian nih yang bikin otak eror malem2. hehehe
Hmmm..tapi yang mau dibicarakan disini kukan masalah politik itu, ga usah berat-berat lah. Lagi pengen comment dikit tentang maraknya tayangan reality show yang bertemakan “pencarian jodoh”. Beberapa judul yang aku tau aja ya ada Take Me Out dan Take Him Out yang dipandu oleh idolaku, si tampan Choky Sitohang. Hehehe. Ada pula Cit-Cat—yang baru saja q lihat—singkatan dari cari ibu tiri-cari ayah tiri. Terus dulu—ga tau sekarang masih ada atau enggak— ada judul2 lain seperti “truck cinta”, “kontak jodoh”, “cinta lokasi”, “makcomblang” yang kesemua judul itu tayang di tiga stasiun TV yang paling sering ditonton masyarakat.

Bagaimana pun si creative team-nya menyusun konsep acara tersebut, koq aku ngeliatnya tetep aja reality show tersebut menyuguhkan satu paradigma baru pada masyarakat, yaitu: “mencari pasangan itu simple, bahkan bisa dalam hitungan menit saja”.

Lihat saja acara yang dipandu abang tampan saya itu (baca:take me out atau take him out), saya amati, setiap wanita yang memiliki penampilan menarik, dia akan bisa pulang dengan membawa satu pria yang dipihihnya. Dan pria yang memiliki penampilan menarik dan atau memiliki pekerjaan yang menjanjikan untuk masa depan, dia pun akan menggandeng seorang wanita yang dipilihnya. Mereka mengenal hanya dengan perkenalan singkat diawal kemunculan sang single lady/man, itu pun hanya dari 1 pihak. Memang dalam ajang itu penampilan fisik sangat-sangat menentukan! Setelah itu ada pengenalan tentang profesinya. Tindakan ini berlaku untuk kedua acara ini, dan yang terlihat tidak begitu menarik akan ditolak saat itu juga. Balutan busana membuat mereka lebih berkelas, tatanan rambut, sepatu, pengenalan tentang pekerjaannya membuat sebagian besar penilaian hanya berdasarkan pada materi dan tampak fisik.

Kalo aku perhatiin acara ini koq lucu ya, bisa ya memilih orang sesingkat itu. Apa yang jadi pertimbangan utamanya ya? Bagaimana mereka masing2 melihat kehidupan rohani dan personality yang harusnya menjadi yang terpenting dalam memilih pasangan. Dimana esensi relasi antara wanita dan pria yang seharusnya? Bagaimana bisa tau latar belakangnya, visi pribadi itu kedepan, karakter, sifat, tempramen, dll—istilah orang jawa *bibit-bobot-bebet*?

Apakah sudah seputus asa itu sehingga mencari jodoh saja harus ditayangkan di depan penduduk Indonesia? Memang cara mencari pasangan yang seperti apa yang mereka pahami sehingga bisa menemukan orang yang dia ijinkan nge-date bersamanya hanya dengan hitungan menit?

Saya sedang mengamati budaya apa yang sedang merambat dalam masyarakat Indonesia. Paradigma ngawur macam apa lagi yang meracuni otak-otak generasi muda? Hmmm… reality2 show kayak gini kan gampang banget narik perhatian masyarakat, dan khususnya remaja yang beranjak dewasa. Tak dipungkiri, saya termasuk di dalamnya, walau saya ga suka dengan konsep acara2 seperti ini, tapi tayangan seperti ini sedikit-banyak sudah menyita perhatian saya. Walaupun saya menilai dengan sebelah mata terhadap peserta acara2 reality show seperti ini, tapi tetep aja ada rasa penasaran dengan “apa yg akan terjadi”. Karena alasan2 itu jadi sesekali saya menonton tayangan ini. Ya akhirnya toh produsen ga perduli bagaimana tanggapan orang yg penting acaranya jalan terus dan banyak yg nonton, lbih bnyak sponsornya, semakin banyak juga yg masuk kantong mereka! Tak bisa membanyangkan jika tayangan ini menjadi acara favorot masyarakat Indonesia dan mulai mengikuti “cara instan” yang dikenalkan dalam acara ini.

0 comments:

Posting Komentar