Aku menyayani sahabatku seperti menyayangi diriku. Hal ini terbukti. Kini aku terpisah jarak dengan Mulia, sahabatku sejak kecil, namun kami tetap berkomunikasi dengan baik. Walau tidak setiap hari. Kami yang selalu satu paket, ternyata tidak untuk selamanya bersama.
Pagi itu aku siap-siap pergi ke kantor untuk sebuah acara baru. Ya, ini tayangan perdana, aku yang terlibat sebagai tim sangat sibuk mempersiapkan acara ini. Dengan gesit aku berlari kecil karena dikejar waktu. Untung sebuah bus kota langsung berhenti begitu aku sampai di halte. Masih ada bangku kosong, aku duduk di situ lalu menarik nafas panjang dan mencoba membuangnya pelan. Tiba-tiba handephone di saku celanaku bergetar. Getar dari handephone itu membuat aku risih, tapi panggilan itu tidak aku angkat. Karena akan percuma mengangkat panggilan telpon di dalam bus, akan sulit terdengar. Sejenak getarannya berhenti, tapi tak lama bergetar lagi. Berhenti lagi, namun lagi-lagi bergetar. Begitu terus menerus sepanjang perjalanan ke kantor.
Ketika di kantor suasana di studio memang sangat sibuk. Seperti halnya sebuah perkenalan, penilaian pertama itu begitu penting. Aku dan seluruh kru dalam acara ini berusaha sebaik mungkin dan sekecil mungkin melakukan kesalahan. Bahkan bila mungkin, kami semua tak akan melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Oya, aku ingat HP di saku celanaku yang selama perjalanan sedikit mengganggu. Aku mengambil si kotak kecil canggih itu, ingin cepat mengetahui siapa yang tadi menelponku heboh. Di layar HP tertulis “18 misedcall”, begitu kutekan perintah “view” maka tampaklah nama Mulia sebagai penelponnya.
“Tam, coba kamu cek e-mail yang datang sampai hari ini!” tiba-tiba mbak Vero, SPV-ku memerintahkanku untuk memeriksa e-mail yang datang untuk divisi kami. Biasanya ini bukan tugasku. Aku membuka computer kantor yang sudah dilengkapi fasilitas internet. Di tempat kerjaku internet bukanlah hal asing lagi. “Tam, sekalian cari artikel tentang tingkat stress anak muda jaman sekarang. Tolong cari yang agak berbobot, buat nambah-nambahin materi MC program nanti siang. Materi yang ada masih kurang soalnya,” pinta mbak Vero padaku. “Sip!” seruku sambil mengacungkan jempol.
Menit demi menit terlewati dalam kesibukan di studio. Program perdana hari ini cukup menguras tenaga dan emosi tiap kru. Namun kami lega setelah acara ini berhasil ditutup dengan mulus, tidak ada gangguan teknis, dan semua berjalan lancar. Beberapa telpon dan SMS yang masuk kebanyakan menyatakan puas dengan tayangan perdana ini. Comment di situs pertemanan yang kami buat juga membuktikan bahwa kerja kami di awal tayangan ini menyedot perhatian penonton. Wah, aku ikut puas. Menyiapkan acara ini sangat menyita waktu dan pikiran, mudah-mudahan minggu depan berjalan selancar ini juga.
Sebagai bentuk apresiasi, produser kami mengundang semua kru untuk makan siang sebuah restoran jepang. Karena tak ingin ketinggalan makan siang bersama, aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Sebentar, Mulia, aku sedang ada pekerjaan. Ah dia pun memaklumi kesibukanku di sini. Batinku sambil meneruskan pekerjaanku. Aku berencana untuk menghubungi Mulia setelah makan siang saja.
Setelah makan siang aku kembali ke kantor, aku tak bisa menelpon Mulia setelah makan siang karena HP-ku tertinggal di kantor. Begitu sampai di kantor, cepat-cepat aku mencari HP-ku. Namun sebuah notes langsung memalingkan perhatian. “Tammy, ditunggu rapat untuk tayangan minggu depan, di ruang Mba Vero. Jam 2pm.” Begitu isi notesnya. Aku melirik jam tangan, ini sudah pukul 01.45 wib, dan aku belum mempunyai ide apa pun. Aku memutuskan mengundur waktu lagi untuk menghubungi Mulia. Aku tak akan punya waktu mencari ide bila aku menelpon Mulia sekarang. Aku akan menelponnya setelah rapat usai.
Rapat siang itu tidak selama rapat untuk tayangan perdana hari ini. Ada beberapa ide menarik yang akhirnya dirumuskan untuk tema minggu depan. Kali ini aku akan mencari narasumber. Sedikit menyita waktu, ini tugas yang paling tidak kusenangi. Agar tak nenumpuk, beberapa pekerjaan ku coba selesaikan hari ini, termasuk mencari narasumber dan targetku akan menghubungi mereka besok. Huh, sepertinya aku akan menelpon Mulia nanti saja di kostan, setelah semua pekerjaan hari ini selesai.
Akhirnya sampai di kost, aku langsung menikmati kasurku yang terasa lebih empuk hari ini. Aku lelah sekali. Selesai mandi, aku berbaring-baring lagi di kasur. Hingga akhirnya aku ketiduran dan tidak jadi menghubungi Mulia.
Keesokannya aku dibangunkan pagi-pagi sekai oleh sebuah panggilan dari HP-ku. Nomer rumah Mulia. Hah? Cepat-cepat ku angkat.
“Ada apa, Mul? Kok tumben pagi-pagi telpon?” tanyaku setengah tidur.
Tak ada jawaban dari sebrang. Sesekali aku mendengar isakan yang tak begitu jelas. Berkali-kali kutanya ada apa. Namun tak juga ada jawaban. Aku semakin penasaran. “Mulia, kamu kenapa?” tanyaku lagi tak sabar.
“Nak…” akhirnya sebuah suara terdengar leih jelas. Namun itu bakan Mulia, itu ibunya.
“Ada apa,Tante?” Tanyaku mulai kawatir.
“Mulia baru saja meninggal, bunuh diri. Hanya ada sepucuk surat. Dia hamil dan ditinggal kekasihnya…” dengan susah payah tante menceritakannya.
0 comments:
Posting Komentar