Senin, 05 Juli 2010

Belajar bersyukur dari seorang teman

Teman saya, panggil saja Je, dia baru saja bercerita tentang kondisi dirinya kepada saya. Beberapa hari lalu dia divonis terkena penyakit hepatitis B. Entah lah dia dapat virus itu dari mana. Saya pun kaget mendengar ceritanya. Saat itu saya membagi konsentrasi saya: konsentrasi mengendarai motor di malam hari yang dingin dan berkabut, di tengah jalan yang rusak disana-sini, pasang telinga untuk mendengar dia bercerita, menahan rasa kaget saya, dan berpikir tentang kata-kata yang tepat untuk menyemangatinya.

Selama saya mengenalnya, saya melihat dia orang yang semangat sekali menggapai keinginannya, dan untungnya dia menginginkan hal-hal yang baik dan benar. Dia semangat sekali melakukan bagian-bagian dari pekerjaan Tuhan yang ditawarkan pada manusia. Saya tau dia orang yang bersemangat juga untuk menggapai keinginannya untuk melanjutkan studinya di sekolah teologia itu. (mungkin Tuhan memintamu untuk menunggu, Je. Tunggulah di ujung jalan nanti, kamu pasti tahu apa yang Tuhan persiapkan untuk dirimu. Kalau pun bukan tahun ini-karena kondisimu yang tidak mendukung- mungkin ada di tahun-tahun berikutnya. Kalaupun bukan menjadi seorang teolog, mungkin Tuhan ingin kamu berkarya di tempat lain. Semangat teman!)

Trimakasih buat shareingmu, Je. Kamu berhasil membuat aku bersyukur ditengah tekanan yang aku alami hari ini. Hari ini aku merasa sangat teramat jatuh. Aku menangis sesiangan, menangisi nasibku yang “digantung” dosen pembimbing. Aku bingung dan menyalahkan banyak hal. Aku bingung, mengurus kesana-kemari, berpikir ini-itu, mengusahakan agar nasibku jelas. Tapi hasilnya nihil. Aku sudah diambang semester genap, dan skripsiku sudah selesai. Aku hanya butuh kepastian tanggal ujian, dan sudah mengusahakannya. Memberanikan diri mendesak dosen, dan ternyata malah mendapat masalah baru! Ya, aku merasa ini hari terburukku selama mengerjakan skripsi. Selama ini aku berhati-hati, berusaha terus memperbaiki, bertanya yang tidak aku pahami, mencari untuk terus melengkapi, tapi rasanya semua itu hancur karena tekanan hari ini.

Sepanjang perjalanan, mendengar shareing Je membuatku mengkoreksi diri dan bersyukur. Kondisi Je tidak lebih baik dari aku. Je punya kekawatiran karena penyakit yang baru ia ketahui, penyakit yang membuat keluarganya mencemaskan dia dan akhirnya melah banyak membatasi dia beraktifitas. Penyakit yang ikut menggagalkan dia diterima di sekolah teologia itu. Penyakit yang mau-tidakmau harus mengurangi tetahanan tubuhnya, mau-tidak mau juga Je harus menerima bahwa dirinya tidak sehat dan dirinya harus menjaga pola hidupnya dengan ketat. Je punya banyak keinginan namun terhalang hepatitis B. Tapi malam itu Je tertawa-taw. Dia bilang penyakit itu melukai hatinya, tapi dia harus bisa menerima itu. Dia yakin Tuhan memiliki rencana yang unik untu dia.

Je yang seperti itu mengingatkan aku. Tuhan menegur aku, aku yang hari ini merasa kehilangan harapan. Aku yang hari ini marah dan menyalahkan banyak hal. Aku yang merasa hakku tidak diberikan dengan adil. Aku yang hari ini menuntut kesana-sini hanya demi ujian kompre. Maaf kan aku Tuhan, aku tak berpengharapan. Maafkan aku, karena aku berpikir hari-hari aku akan hampa, dan akan buruuuuuk sekali karena aku harus menanti tanggal itu. Aku lupa menyerahkan diri kepada rencana-Mu. Rencana-Mu yang tak pernah terselami pikiranku.

Ya, banyak hal yang bisa aku lakukan sampai ujian itu tiba. Mungkin tak perlu aku memaksa keadaan dan mengejar planing yang aku rancang. Ada banyak waktu yang bisa aku gunakan untuk berkarya, tanpa harus menunggu lulus. Banyak hal yang bisa aku lakukan sambil menunggu tanggal itu. Trimakasih Tuhan, karena telah menegurku lewat orang-orang disekitarku. Trimakasih telah menyemangatiku kembali lewat mereka. Thank you Jesus. Thanks for being may God, my Savior, and my Friend. Thank you for loving me… I love You

0 comments:

Posting Komentar