Negara saya lagi heboh (emang kapan pernah gak heboh?), ada masalah “tingkah” Malaysia yang sedang jadi bahan perbincangan sejagad Indonesia. Ada juga heboh isu pembangunan gedung DPR yang mewah, luas, lengkap dengan fasilitas hiburan—biar bisa santai sebentar kalau lagi stress didemo masyarakat—dan olah raga.
Kali ini saya akan lebih fokus pada masalah pembangunan “Istana DPR”. Pagi tadi saya mendengar kalimat yang menarik dari salah satu anggota DPR yang mendukung rencana pembangunan ini. Beliau bilang bahwa fasilitas yang mereka dapatkan akan mempengaruhi produktifitas mereka. Yay! Kalau begitu apa bedanya wakil-wakil rakyat itu dengan bocah sekolahan yang selalu diiming-imingi hadiah jika mereka berhasil naik kelas?
Sebelumnya, saya punya sedikit cerita. Satu minggu lalu saya menjadi panitia sebuah acara di kampus, saya dipercayakan di bagian multimedia dan tanggung jawab saya adalah membuat beberapa video. Salah satu tema video yang ditugaskan adalah perjuangan. Saya den rekan saya merancang sekenario untuk video tersebut. Kami memberi gambaran bahwa para pemuda bangsa Indonesia (pahlawan) pada masa itu berjuang, tekun, rela berkorban demi kemerdekaan bangsanya. Yang kami ceritakan di situ adalah pemuda-pemuda yang berkumpul, bersama-sama meluangkan waktu, tenanga, meteri, bahkan nyawa mereka untuk menebus kehormatan bangsa. Hingga akhirnya proklamasi kemerdekaan dikumandangkan dan Indonesia merdeka! Setelah itu muncul gambaran tentang pembangunan bangsa yang melejit, pesat pasca kemerdekaan. Tujuan video ini adalah mendorong orang yang melihatnya agar memiliki semangat juang seperti pemuda-pemuda tersebut walau ditengah kondisi yang minim fasilitas. Tidak membiasakan diri dengan kepraktisan, dan membuat diri kita dimanjakan kemudahan. Saya, sebagai panitia saja terharu melihat video itu dan berkaca pada sekenario yang saya buat.
Sekarang, setelah acara itu berlalu, makna video itu masih tetap membekas dalam pikiran. Saya kira video itu tidak hanya cocok dengan mahasiswa, namun juga cocok dijadikan teguran bagi para anggota DPR negri ini. Saya ibaratkan para anggota DPR itu adalah pemuda-pemuda (pahlawan) bangsa. Tapi sebenarnya, anggota DPR itu memang (seharusnya) pahlawan negri ini. Pemuda jaman dulu berjuang melawan penjajah dari negara lain. Saat ini pemuda bangsa juga harus tetap berjuang untuk membangun dan mempertahankan kehormatan bangsa kita. Modal dasar kita sama: waktu, ilmu, materi, dan tentunya rasa cinta terhadap tanah air. Namun sayangnya semangat pemuda saat ini sudah pudar, jiwa rela berkorban untuk bangsa tak begitu berkobar, bahkan empati terhadap permasalahan negara sangat kurang. Buktinya sudah nyata: rencana pembangunan “Istana DPR” yang akan menghabiskan dana sekitar 1,6 triliun dengan rincian bangunan yang sudah saya singgung sebelumnya. Di tengah kondisi bangsa Indonesia yang tidak berkecukupan, mengapa wakil rakyatnya malah memuaskan kebutuhan mereka sendiri.
Mengenai bangunan yang akan dibuat itu, beberapa anggota DPR beranggapan bahwa kinerja mereka akan lebih maksimal jika mereka ada di ruangan kerja yang dapat mengakomoir pekerjaan mereka. Mereka butuh kenyamanan untuk bekerja lebih baik. Butuh sarana ini, butuh ketersediaan itu, dan lain sebagainya. Sudah terlalu banyak tuntutan keluar dari mulut mereka. Padahal beberapa fasilitas yang mereka inginkan sudah dipenuhi negara. Tapi hingga kini kinerja yang mereka perlihatkan begitu-begitu saja, peningkatan yang terjadi tidak begitu signifikan.
Berkaca pada para pemuda yang rela berjuang ditengah fasilitas yang minim(bahkan nyaris tidak ada), seharusnya para petinggi itu malu. Pahlawan kita tidak menuntut kenyamanan mereka terlebihdahulu, bagi mereka Indonesia adalah segalanya. Demi Indonesia, mereka mau mengumpulkan semua yang mereka punya. Kontras sekali dengan pemuda saat ini, khususnya anggota DPR RI. Mungkin perinsip mereka seperti ini: berikan apa yang kalian punya, maka kami baru akan bekerka. Semain banyak, kerja kami akan semakin baik. Kalau begini keadaannya, jadi sebenarnya apa fungsi wakil rakyat? Memfasilitasi masyarakatnya atau difasilitasi masyarakatnya?
Kamis, 02 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 comments:
Posting Komentar