Rabu, 10 Februari 2010

Cari sandal, cari Jodoh

Aku terinspirasi menulis posting-an ini dari percakapan “gila” bareng astari, seorang teman dekatku. Waktu itu aku lagi jalan-jalan di MOG untuk mencari sandal. Udah liat di toko ini-itu nggak ada yang pas, nggak ada yang cocok, nggak ada di hati . Menurut aku sandal yang pas itu adalah sandal yang cocok di kaki, warna OK, bentuk cantik, dan harga ramah kantong. Namun sepanjang jalan aku tidak menemukan yang pas.

Ke sana nggak ada yang cocok, pindah toko ada yang bagus tapi mahal, pindah rak ada yang murah tapi nggak nyaman di kaki. Wahaha.. kita langsung berceloteh iseng “cari sendeal aja koq susah ya?!” lalu keluarlah celotehan iseng lainnya “Iya lah kita kan cari yang terbaik buat hidup kita!” wakakakaka… duh..kita ini lagi ngomongin apa sih,, as…ckckckck,, ini ngomongin sandal lho, bukan jodoh! Hehehe..

Beberapa bulan berikutnya, sehabis natal dan tahun baru, aku kembali lagi mencari sandal di mall yang sama. Namun dengan orang-orang yang berbeda, dan dengan kondisi kantong yang berbeda pula. Biasalah tahun baruan gini pasti kantongku penuh rupiah ^^
Aku mencari sandal yang beberapa bulan lalu aku inginkan. Sekarang aku sudah tidak perdulu harganya, karena aku sudah punya uang. Hahaha.. tapi tetap saja menurutku sandal yang bagus ya sandal yang harganya ramah kantong. Ternyata sudah punya uang banyak tidak merubah standar ku terhadap sandal bagus. Tetep kudu murah! Walhasil aku cuman muter-muter mall aja! Lagi-lagi tidak ada sandal yang cocok, yang pas! Lagi-lagi gagal membawa sandal baru pulang ke rumah..

Tapi beberapa hari lalu, setelah hampir 1 bulan aku tahan keinginan membeli sandal, akhirnya aku menemukan tambatan kaki! Laginya nganterin sepupu belanja perlengkapan kost, eh malah ketemu ortuq lagi borong belanjaan. Ibu baru saja beli sepatu discount-an di matahari. Tapi ternyata nomer kanan-dan kirinya berbeda. Aku diminta menukarkan sepatu itu. Tapi nggak ada lagi nomer-nya. Jadi, aku harus mencari produk lain untuk mengganti sepatu itu. Aku lihat-lihat, dan akhirnya bertemulah dengan si tambatan kaki! Hahhaa… ini bagus, cocok di kaki, modelnya aku suka, wananya juga pas, sandal ini punya merk, belinya di department store (bukan pasar besar! wakakaka), dan yang penting juga harganya lah*pelit parah*

Karena mengingat cerita diatas, aku jadi inget sesuatu! Ya, memang aku harus sabar. Bias aja aku beli sandal mahal yang aku suka itu, tapi suatu hari aku akan menyesal karena ada sandal lain yang ternyata bias aku beli dengan harga jauh lebih murah.
Yap, begitupun dengan jodoh! (jadi ingat pembicaraan aku dan astari). Mendapatkan jodoh yang pas jadi tak ubahnya mendapatkan sandal. Yang cocok, sreg di hati, karakternya aku suka, pribadinya bagus, mampu membuat aku merasa cantik, dan yang penting dia mencintai aku!

Sering kali aku yang tidak sabar dengan ketepatan waktu yang dijanjikan Tuhan! Sama seperti ketika aku merasa sudah butuh sandal, padahal hanya perasaanku saja karena terpengaruh melihat mode.

Terkadang aku berkompromi untuk menghilangkan satu dari sekian standar-ku untuk memutuskan memilih seseorang. Padahal standar itu aku buat berdasarkan pengenalanku akan tuntunan Tuhan kepada anak-anak-Nya dalam mencari jodoh yang sepadan.

Terkadang aku juga tergoda untuk meng-iya-kan seseorang yang memang perhatian dan baik terhadapku. Tapi ternyata karakter dan pribadinya tidak membuatku nyaman.

Sering kali merasa lelah, dan kecewa berkali-kali. Namun rasanya semua itu menjadi proses yang memang harus aku alami. Sama seperti ketika aku berkali-kali meletakan kembali sandal yang ku ingikan ke raknya dengan hati yang sedih, sama seperti lelahnya kaki ini mencari sandal keluar-masuk toko tapi ga ada yang cocok!

Teringat waktu aku dapat sandal itu, di saat yang tepat, dan dengan sandal yang memang idamanku. Sama seperti ibuku memahami kebutuhanku akan sandal, aku tahu Tuhan juga memahami kebutuhan anak-Nya akan pasangan hidup. Walau aku bertanya-tanya kapan waktu yang tepat itu, dan terus mencari tambatan hati yang hingga saat ini belum aku temukan yang pas. Lha wong sandal aja aku cari yang terbaik koq.. apa lagi jodoh!

Selalu ada saja hal-hal yang membuat seseoang itu tidak pas! Tapi sama seperti aku mencari sandal yang pas, aku juga akan terus mencari tambatan hati yang pas. Pas dengan hati, pas dengan standar yang aku punya . Sama seperti sandal yang aku temukan di waktu yang tepat, begitu juga tambatan hati yang akan aku temukan suatu hari nanti.

0 comments:

Posting Komentar