Jumat, 05 Februari 2010

M-A-A-F sedalam hati

Kata maaf itu sesederhana rangkaian empat huruf… M-A-A-F
Mengucapkannya sesederhana dua penggal kata Ma-Af
Kata ‘maaf’ seharusnya keluar ketika ada sebuah kesalahan. Namun sering kali mengucapkannya tak sesederhana ‘maaf’!

“Maaf” adalah sikap! Sikap meminta ampun, sikap penyesalan, mengakui kesalahan atau kerusakan yang diakibatkan oleh ketidakbenaran dalam diri manusia. Namun belakangan aku mengamati: meminta maaf menjadi hal simpel dalam keseharianku saat ini. terlebih lagi di tanah jawa, yang kebanyakan orangnya terlalu ramah. Satu sisi ini baik, untuk mengajarkanku bersikap rendah hati dan mau mengakui kesalahan. Namun disisi lainnya kata “maaf” ini malah menjadi sesuatu yang dipermainkan, menjauhkan ‘maaf’ dari maksud ‘maaf’ itu sendiri.

“Mintalah maaf jika kita memang benar-benar melakukan kesalahan dan menyadari kesalahan kita itu adalah suatu yang buruk, merugikan orang lain!” kata seorang dosen komunikasi dan seorang instruktur cara bersikap di depan public yang pernah mengisi acara seminar yang aku dan teman-teman selenggarakan. Ya 200% aku setuju dengan ucapan beliau. Untuk apa minta maaf kalo hanya mau numpang lewat? Bilang saja permisi! Untuk apa seorang receptionist minta maaf pada lawan bicaranya saat menanyakan nama? Toh kewajiban si lawan bicara juga memberi keterangan identitasnya! Jangan menyalahgunakan ‘maaf’!

Mengucapkan ‘maaf’ seharusnya semahal “memaafkan”. Bagiku memaafkan maling TV yang memang butuh uang untuk pengobatan anaknya lebih mudah daripada memaafkan seorang bapak yang menyia-nyiakan anak-istrinya dan pergi bersama wanita lain (sekalipun aku tidak pernah menjadi si anak terlantar)!

Mintalah ‘maaf’ atas kesalahan yang kita buat. Mintalah dengan kesungguhan hati dan benar-benar membutuhkan maaf itu agar hidup kita tenang! Mintalah maaf, namun ingatlah maaf itu berarti juga janji kita untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi.

Berilah ‘maaf’ atas kecewa yang kita alami. Berilah dengan tulus dan tanpa pamrih. Berilah maaf itu karena orang yang telah mengecewakan kita telah benar-benar menyesal. Jangan pernah mengobral ‘maaf’ mu, namun juga jangan meninggikan diri lalu jadi sulit memaafkan. Memberikan maaf berarti membuka lembaran baru dan memberi kepercayaan. Jangan pernah bilang sudah memaafkan kalau kita masih berkata “dulu kamu pernah”.

Mengingat hal ini, aku tak ingin bermain-main dengan ‘maaf’ lagi. Maaf sesungguh penyesalan… memaafkan setulus pembebasan.

0 comments:

Posting Komentar